Sebagian masa kecil saya dihabiskan di Kota Metropolitan, ya Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Saya di sana tinggal bersama ibu dan bapak saya, serta beberapa karyawan bapak saya yang juga merantau di sana.
Bapak saya salah seorang wirausaha konveksi yang merantau ke Kota Jakarta.
Karena memang sebagian dari keluarga bapak saya, dan juga beberapa rekannya merantau ke Kota Jakarta untuk berwirausaha, mayoritas sebagai wirausaha konveksi pakaian.
Disana kami tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Slipi Palmerah, Jakarta Barat.
Saya memang lahir di Pekalongan, namun sekira usia belum genap setahun mungkin, saya sudah diajak merantau oleh kedua orang tua saya, ke Kota Jakarta.
Ya, karena memang profesi bapak saya dan juga karena kami belum memiliki tempat tinggal / rumah pribadi sendiri di Pekalongan.
Saat itu di Pekalongan, kami tinggal bersama Kakek dan Nenek, Kedua orang tua ibu saya.
Di Jakarta saya tinggal tidak terlalu lama, hanya sampai saya menjelang masuk ke Taman Kanak-Kanak (TK).
Ya, saya TK di Pekalongan, karena saat itu Alhamdulillah kami sudah memiliki rumah sendiri di Pekalongan.
Sehingga orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya TK di Pekalongan, dan juga ibu saya, sedangkan bapak saya tetap berwirausaha di Kota Jakarta, yang pulang ke Pekalongan nya 4 hingga 5 bulan sekali, atau bahkan hanya ketika Keluarga mau ada hajatan saja, dan juga saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Kembali ke cerita masa kecil saya di Kota Jakarta.
Saya di sana memiliki seorang sahabat kecil bernama Fibra, tempat tinggal nya bersebelahan dengan kontrakan kami.
Itu sebabnya saya dan Fibra sangat akrab, sering bermain bersama, hingga seperti saudara sendiri.
Namun kami (saya dan Fibra) tak hanya berdua saja, kami juga memiliki teman-teman sebaya lainnya yang juga sering bermain bersama kami.
Namun hanya Fibra yang memang bersahabat dengan saya, kalau bahasa jaman now nya bestie lah, ya ges ya, hehehe.
Karena mungkin kami berdua memang sefrekuensi, sehingga seringkali kami menghabiskan waktu bermain bersama.
Entah itu di sekitar lingkungan rumah, di depan rumah, di jalanan gang rumah, di rumah teman lain, atau di warung jajan, kami sering bersama.
Pernah suatu kali ada seorang teman kami bernama Apit, di usil dan nakal kepada kami, padahal kami tidak berbuat nakal terlebih dulu kepadanya.
Ya, teman kami bernama Apit tersebut memang terkenal anak yang agak nakal dan terkesan temperamental, teman-teman kami yang lainnnya pun memang sudah mengetahuinya, dan tidak sedikit dari mereka yang takut kepada Apit tersebut.
Namun karena mungkin saya tergolong anak yang pemberani ya ges ya, jadi saya biasa aja tuh dengan Apit, bahkan saya berteman akrab juga dengannya, namun ya lebih akrab sama Fibra, sih.
Kejadian usil dan nakalnya si Apit dengan kami berdua tuh, terjadi pada saat kami semua (saya, Fibra, Apit, dan teman-teman sebaya kami lainnya) sedang bermain bersama di lingkungan sekitar jalanan gang rumah.
Saat itu tiba-tiba Apit memegang lengan tangan kanan saya, dan langsung ditarik ke arah wajahnya, saya yang saat itu merasa aneh sebenarnya sih, tapi saya biasa aja karena nggak ada ketakutan dengan si Apit ini, ternyata lengan saya langsung digigit dengan pedenya dia.
Alhasil, dengan reflek dan spontanitas, saya langsung memegang leher si Apit dengan tangan kiri saya dan seraya berkata "eh Pit Apit, lepasin gak tuh gigitan di tangan gua, atau gua cekik juga nih leher lu", mendengar itu mungkin si Apit takut juga, karena saya juga sudah mencekik lehernya sedikit, nggak terlalu keras sih, biarpun nakal tapi saya juga nggak tega, apalagi si Apit kan juga teman saya.
Nggak lama akhirnya gigitan nya langsung dilepaskan oleh si Apit yang songong itu, dengan sedikit mengancam saya memberanikan diri untuk ngomong langsung ama dia, " awas lu pit Apit, kalau berani kayak gitu lagi, gue cekik lebih keras lagi leher lu''.
''iya iya, ampun, saya minta maaf deh", kata si Apit sambil merasa bersalah keliatannya.
Namun ternyata, dasar si Apit ini nih emang anak yang bandel dan ngeweng, tak lama setelah kejadian itu, giliran si Fibra yabg jadi korban kejahilan si Apit ini.
Sama, tangannya si Fibra langsung dipegang, ditarik, dan digigit, namun entah karena gigitannya emang cukup keras mungkin ya, si Fibra nih ampe nangis loh ges.
Saya dengan cekatan langsung memang lengan tangan si Fibra yang digigit, dan juga memang leher si Apit, dan kali ini saya benar-benar reflek mencekik nya, saking nggak teganya saya sama si Fibra, digigitnya juga cukup lama hingga berbekas tuh gigi nya si Apit di lengan tangan nya si Fibra.
Setelah saya cekik tuh sih Apit dan langsung melepaskan gigitannya, saya memutuskan untuk membawa si Fibra pulang ke rumahnya.
Namun ya itu namanya masa kecil, wajar ada yang nakal seperti itu, dan esok harinya kami semua langsung saling berbaikan nggak ada yang namanya tuh dendam-dendaman.
Oke gaes, itu sedikit cerita masa kecil saya bersama sahabat kecil saya.
Mungkin cukup sekian dulu, karena terlalu panjang jika semuanya harus ditulis.
Terimakasih banyak buat yang udah mau membaca tulisan mas iz ini, semoga lain kali mas iz bisa bikin tulisan lagi, ya ges ya.
Salam semangat dan sukses selalu sahabat.
Rabu, 01 Juni 2022
- tulisan mas iz -