Rabu, 01 Juni 2022

Sahabat Kecil - tulisan mas iz -

Sebagian masa kecil saya dihabiskan di Kota Metropolitan, ya Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Saya di sana tinggal bersama ibu dan bapak saya, serta beberapa karyawan bapak saya yang juga merantau di sana.

Bapak saya salah seorang wirausaha konveksi yang merantau ke Kota Jakarta.

Karena memang sebagian dari keluarga bapak saya, dan juga beberapa rekannya merantau ke Kota Jakarta untuk berwirausaha, mayoritas sebagai wirausaha konveksi pakaian.

Disana kami tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Slipi Palmerah, Jakarta Barat.

Saya memang lahir di Pekalongan, namun sekira usia belum genap setahun mungkin, saya sudah diajak merantau oleh kedua orang tua saya, ke Kota Jakarta.

Ya, karena memang profesi bapak saya dan juga karena kami belum memiliki tempat tinggal / rumah pribadi sendiri di Pekalongan.

Saat itu di Pekalongan, kami tinggal bersama Kakek dan Nenek, Kedua orang tua ibu saya.

Di Jakarta saya tinggal tidak terlalu lama, hanya sampai saya menjelang masuk ke Taman Kanak-Kanak (TK).

Ya, saya TK di Pekalongan, karena saat itu Alhamdulillah kami sudah memiliki rumah sendiri di Pekalongan.

Sehingga orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya TK di Pekalongan, dan juga ibu saya, sedangkan bapak saya tetap berwirausaha di Kota Jakarta, yang pulang ke Pekalongan nya 4 hingga 5 bulan sekali, atau bahkan hanya ketika Keluarga mau ada hajatan saja, dan juga saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Kembali ke cerita masa kecil saya di Kota Jakarta.

Saya di sana memiliki seorang sahabat kecil bernama Fibra, tempat tinggal nya bersebelahan dengan kontrakan kami.

Itu sebabnya saya dan Fibra sangat akrab, sering bermain bersama, hingga seperti saudara sendiri.

Namun kami (saya dan Fibra) tak hanya berdua saja, kami juga memiliki teman-teman sebaya lainnya yang juga sering bermain bersama kami.

Namun hanya Fibra yang memang bersahabat dengan saya, kalau bahasa jaman now nya bestie lah, ya ges ya, hehehe.

Karena mungkin kami berdua memang sefrekuensi, sehingga seringkali kami menghabiskan waktu bermain bersama.

Entah itu di sekitar lingkungan rumah, di depan rumah, di jalanan gang rumah, di rumah teman lain, atau di warung jajan, kami sering bersama.

Pernah suatu kali ada seorang teman kami bernama Apit, di usil dan nakal kepada kami, padahal kami tidak berbuat nakal terlebih dulu kepadanya.

Ya, teman kami bernama Apit tersebut memang terkenal anak yang agak nakal dan terkesan temperamental, teman-teman kami yang lainnnya pun memang sudah mengetahuinya, dan tidak sedikit dari mereka yang takut kepada Apit tersebut.

Namun karena mungkin saya tergolong anak yang pemberani ya ges ya, jadi saya biasa aja tuh dengan Apit, bahkan saya berteman akrab juga dengannya, namun ya lebih akrab sama Fibra, sih.

Kejadian usil dan nakalnya si Apit dengan kami berdua tuh, terjadi pada saat kami semua (saya, Fibra, Apit, dan teman-teman sebaya kami lainnya) sedang bermain bersama di lingkungan sekitar jalanan gang rumah.

Saat itu tiba-tiba Apit memegang lengan tangan kanan saya, dan langsung ditarik ke arah wajahnya, saya yang saat itu merasa aneh sebenarnya sih, tapi saya biasa aja karena nggak ada ketakutan dengan si Apit ini, ternyata lengan saya langsung digigit dengan pedenya dia.

Alhasil, dengan reflek dan spontanitas, saya langsung memegang leher si Apit dengan tangan kiri saya dan seraya berkata "eh Pit Apit, lepasin gak tuh gigitan di tangan gua, atau gua cekik juga nih leher lu", mendengar itu mungkin si Apit takut juga, karena saya juga sudah mencekik lehernya sedikit, nggak terlalu keras sih, biarpun nakal tapi saya juga nggak tega, apalagi si Apit kan juga teman saya.

Nggak lama akhirnya gigitan nya langsung dilepaskan oleh si Apit yang songong itu, dengan sedikit mengancam saya memberanikan diri untuk ngomong langsung ama dia, " awas lu pit Apit, kalau berani kayak gitu lagi, gue cekik lebih keras lagi leher lu''.

''iya iya, ampun, saya minta maaf deh", kata si Apit sambil merasa bersalah keliatannya.

Namun ternyata, dasar si Apit ini nih emang anak yang bandel dan ngeweng, tak lama setelah kejadian itu, giliran si Fibra yabg jadi korban kejahilan si Apit ini.

Sama, tangannya si Fibra langsung dipegang, ditarik, dan digigit, namun entah karena gigitannya emang cukup keras mungkin ya, si Fibra nih ampe nangis loh ges.

Saya dengan cekatan langsung memang lengan tangan si Fibra yang digigit, dan juga memang leher si Apit, dan kali ini saya benar-benar reflek mencekik nya, saking nggak teganya saya sama si Fibra, digigitnya juga cukup lama hingga berbekas tuh gigi nya si Apit di lengan tangan nya si Fibra.

Setelah saya cekik tuh sih Apit dan langsung melepaskan gigitannya, saya memutuskan untuk membawa si Fibra pulang ke rumahnya.

Namun ya itu namanya masa kecil, wajar ada yang nakal seperti itu, dan esok harinya kami semua langsung saling berbaikan nggak ada yang namanya tuh dendam-dendaman.

Oke gaes, itu sedikit cerita masa kecil saya bersama sahabat kecil saya.

Mungkin cukup sekian dulu, karena terlalu panjang jika semuanya harus ditulis.

Terimakasih banyak buat yang udah mau membaca tulisan mas iz ini, semoga lain kali mas iz bisa bikin tulisan lagi, ya ges ya.

Salam semangat dan sukses selalu sahabat.

Rabu, 01 Juni 2022

- tulisan mas iz -

Minggu, 20 Februari 2022

Segitiga Semu (bagian 1) : Perkenalan dengan mereka - tulisan mas iz -

Ini kisah tentangku dan kedua teman perempuanku, mereka bernama Ani dan Ama, sebenarnya kami bertiga pernah satu sekolah ketika jenjang SMA, Ani dan Ama anak IPA, dan aku anak IPS.


Namun kala satu sekolah, kami bertiga bukanlah tiga sahabat, pun tidak saling akrab, sempat ketemu namun sekedar menyapa saja, itupun tak sering, entahlah antara Ani dan Ama, aku tak tau mereka berdua bersahabat atau sekedar teman biasa.

Ani seorang gadis yang ceria, ramah, dan murah senyum, dia cukup aktif di sekolah dalam bergaul dengan teman-temannya.

Sedangkan Ama, dia perempuan yang anggun, lemah lembut, dan sopan santun, dia lumayan pintar di sekolah kami.

Meskipun keduanya berbeda kepribadian, tapi mereka adalah teman-teman baikku, aku tak membeda-bedakannya, keduanya sama bagiku.

Hingga tiba waktu perpisahan sekolah tiba, aku sempatkan untuk menyapa Ani, diapun menyapa balik, sampai terjadilah percakapan, dia bertanya tentang rencanaku, akupun menjawab dengan sigap bahwa aku akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta.

Begitupun dengan Ani, dia juga akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang berstatus Negeri di luar kota. Aku turut mendoakannya agar kelak dia menjadi orang yang sukses.

Aku juga sempat bertemu dengan Ama, namun saat kutanya perihal rencana setelah lulus sekolah, dia hanya senyum saja seraya tak ingin menjawab, sepertinya aku membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu, langsung kuganti topik pembicaraan, aku spontan berkata bahwa pakaian yang dikenakannya sangat bagus dipakai olehnya. Saat perpisahan, beragam memang pakaiannya masing-masing kelas.

Waktu semakin berjalan, kami bertiga menjalani hidup masing-masing setelah kelulusan sekolah.
Ani berkuliah di luar kota dengan status anak kost, Ama ternyata tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, dia membantu ibunya berjualan di rumahnya, dia memang sangat berbakti pada orangtuanya. Dan aku berkuliah di kampus swasta yang masih satu daerah dengan sekolah jenjang SMA kami.

Namun walaupun tidak lagi saling bertatap muka, tetapi kami terkadang sering berkomunikasi secara maya, kami sempat bertukar nomor handphone saat sekolah dulu.
Aku menyempatkan menghubungi Ama, bertanya kabar, diapun balik menanyakan kabarku, sejak itu aku dan Ama sering berkomunikasi melalui chat.

Hingga suatu saat aku tak sengaja bertemu dengannya di depan rumahnya, aku tak tau jika itu rumahnya Ama, saat itu aku hendak mengurus keperluan perpanjangan STNK ke Kantor Samsat Kabupaten, aku hendak membeli bensin untuk kendaraanku, karena masih jauh dari SPBU, aku berhenti di depan agen yang berjualan bensin eceran, saat aku turun dari kendaraan, ternyata Ama yang berjualan.

Belum sempat aku berkata dia langsung menyapaku, akupun sontak kaget, kukira siapa karena aku masih pangling sudah hampir 1 tahun lebih tidak bertemu, dan ternyata Ama, diapun menawariku untuk beristirahat dulu mampir ke rumahnya, namun waktunya tidak pas, sebenarnya aku ingin ke rumahnya, bukan apa-apa, cukup bersilaturahim dan bertemu dengan orangtuanya, tidak enak juga kan sudah ditawari tapi kesannya menolak. Tetapi kala itu memang aku harus segera bergegas ke kantor Samsat untuk mengurus keperluan.

Di lain waktu, aku juga sempat menerima pesan online dari Ani, dia mengabariku jika dia sudah berhasil masuk di perguruan tinggi negeri yang ia cita-citakan. Akupun turut senang mendengatnya, sejak itu pula kami jadi sering berkomunikasi, hingga sampai suatu saat kami ditakdirkan bertemu kembali.

Kala itu acara pernikahan teman sekolah kami, aku datang dengan temanku berdua, dan Ani datang bersama teman-teman sekumpulannya waktu sekolah dulu. Aku sempat disapa olehnya dan akupun menyapa balik. Tak banyak perbincangan dari kami, hanya saling bertanya kabar saja.

(bersambung ke bagian 2, ditunggu ya teman-teman)

- tulisan mas iz -

Rabu, 22 Desember 2021

Melodi Sore Hari - tulisan mas iz -

Saat itu, tiba-tiba datang seorang perempuan yang tidak aku kenal sebelumnya, dia menyapaku, entah darimana dia tau namaku, "hai iz" sahutnya kepadaku, akupun menoleh ke arahnya serta mengingat-ingat apakah aku pernah berjumpa dengannya.

Aku hanya senyum kepadanya, aku benar-benar tidak mengingatnya, aku hanya mengira kalau dia teman sekolahku waktu SD atau SMP.

Dia menuju ke arahku, lalu meminta izin untuk duduk disebelahku, akupun mengiyakannya kala ia bertanya "apakah aku boleh duduk disebelahmu, iz?"

Aku begitu canggung, gugup, dan malu. Aku tak tau dia ini siapa, dia tau namaku tetapi dia bahkan tidak memperkenalkan diri kepadaku, "apa yang harus kulakukan" batinku.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada dirinya, "hei, senang berjumpa denganmu, tapi maaf, siapa nama kamu?" ucap diriku padanya.

"Kamu lupa namaku ya?" Katanya kepadaku, "iya, aku benar-benar tidak ingat, maaf" ucapku.
Lalu dia menunjukkan sebuah foto dari dompetnya, sepertinya foto itu sudah cukup lama, karena gambarnya sudah tidak terihat jelas, tetapi masih samar-samar aku melihat ada fotoku dan dia disitu.

Entah apa maksudnya dia menunjukkan foto itu padaku, tapi aku yakin maksudnya adalah untuk meyakinkanku jika dia adalah temanku waktu masa sekolah dulu, tetapi di foto itu semua memakai pakaian bebas, berlatar belakang pemandangan ladang persawahan yang indah, ada 5 anak di foto itu, termasuk aku dan dia, serta 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Aku masih mencoba mengingatnya, tetapi entah mengapa semakin aku mengingatnya justru aku semakin kesulitan untuk fokus, malah pikiranku jadi buyar.
Langsung saja tanpa pikir panjang aku bertanya padanya, "ini foto kapan ya, kok ada aku sama kamu disini?" ucap diriku.

"ih masak kamu lupa, iz, inikan foto kita berlima waktu main-main di belakang rumahku" katanya kepadaku, "waktu itu kan kita kerja kelompok di rumahku, setelah selesai kita langsung main" sambungnya.

"Rima kan namamu?" Kuberanikan diri untuk bertanya padanya, "iya iz, akhirnya kamu ingat juga namaku" ucapnya.

Ternyata dia adalah Rima, ya, Rima Sahira, teman semeja waktu kami kelas 6 SD.
Tapi kok dia masih hafal denganku, dan kenapa dia ada disini, seingatku dia pindah ke Kota Jakarta bersama keluarganya, setelah kami lulus SD.

Kutanya lagi kepadanya, "Rima, bukannya kamu dulu pindah ke Jakarta ya sama keluarga kamu?" Ucapku padanya.

"iya benar iz, aku melanjutkan SMP di Kota Jakarta, dan kemarin kami pulang kesini, ya itung-itung liburan dong, kan udah penerimaan raport, hehe" ujarnya dengan tawa.

"Hah, penerimaan raport, emang kamu masih sekolah ya, kelas 7A apa 7B, hehe" candaku kepadanya.

"ih kamu itu iz, dari dulu masih ngeselin aja" gumam dirinya sambil menggerutu.

"eh iya iya maaf rim, hanya bercanda kok, maksudku kamu sekarang dah kerja dimana, kok pulang kesini lagi, saya kira sudah betah dan menetap di Jakarta" kataku padanya.

"aku sekarang bekerja sebagai Guru IPA di salah satu SMP Negeri di Jakarta, iz, kalau kamu kerja dimana iz?" Ucapnya padaku, dan diapun menanyaiku.

"aku juga bekerja di bidang Pendidikan, sama seperti dirimu, rim, tetapi aku bekerja sebagai Tenaga Kependidikan menangani administrasi, dan di Madrasah swasta" jawabku padanya.

"oh.... nggak apa-apa iz, kan sama aja kita kerja halal, yang penting kita harus ikhlas dan berdedikasi tinggi dalam bekerja, jangan setengah-tengah, dan kita harus mencintai pekerjaan kita, iz, karena nggak semua orang seberuntung kita yang udah punya pekerjaan, kita harus bersyukur" katanya menasehatiku.

"iya kamu benar rim, nggak semua orang bisa memiliki pekerjaan, aku merasa beruntung mendapatkan pekerjaan ini" ucap diriku.

Akupun masih belum tau alasan sebenarnya dia ada disini, iya, dia mengatakan kalau dirinya pulang untuk liburan, tetapi kenapa dia bisa menemuiku di lapangan sepakbola ini, aku disini kan karena habis main sepakbola tadi bersama teman-temanku, sedangkan dia perempuan, tidak mungkin kan dia main sepakbola juga, apalagi dia memakai rok.

Aku tanya saja padanya "kok kamu ke lapangan sepakbola ini rim, kamu kan cewek?" Tanyaku padanya.

"ih kamu itu iz, ya iyalah aku ini cewek, emang kenapa sih kalau aku ke lapangan ini, nggak boleh ya, iz? yaudah aku pulang aja deh" ungkapnya sambil menggerutu.

"hei hei hei rim, nggak gitu maksud aku, masak gitu aja ngambek sih, ku beliin balon ama maenan  ya, hehe" candaku padanya.

"ih kamu itu iz, masih ngeselin aja" katanya, "aku ke lapangan ini itu karena aku kangen dengan tempat ini, beserta kenangan-kenangannya juga, eh nggak sengaja ngelihat kamu disini, yaudah aku samperin" jawabnya.

Hari semakin sore, dan tak disangka kala itu hujan begitu saja dan lumayan deras, aku mengajak Rima untuk berteduh ke sebuah warung makan sederhana yang tak jauh dari lapangan sepakbola itu.

"Rima, ayo ikut aku, kita bisa kehujanan dan basah kuyup jika disini terus" ungkapku padanya.

Di warung itu, aku pesankan minuman dan cemilan untuk Rima dan diriku, sambil menunggu hujan reda, kami mengobrol apa saja yang dapat kami obrolkan, dari masa sekolah dulu, hingga rencana dia untuk balik ke Jakarta minggu depan nanti.

Terdengar ada suara alat musik, sepertinya ada yang sedang bermain gitar kala itu, aku menghampiri orang yang sedang bermain gitar, dan akupun meminjamnya.

"mas, aku boleh pinjam gitarnya nggak mas" tanyaku padanya,
"oh boleh mas, ini silahkan" dia memperbehkan.

Aku membawa gitar itu mendekat ke Rima, dan aku mainkan sebuah melodi yang dulu sempat kami mainkan saat di kelas bermain gitar bersama teman-teman kami.

"ih, kamu masih ingat melodi itu iz?" tanya Rima kepadaku.

"masih dong, melodi ini akan selalu aku ingat, karena melodi ini yang membuat aku semangat, menjadikanku mengingat masa-masa sekolah dulu ketika kita bersama teman-teman yang lain, Rim, kamu juga ingat kan?" Tanyaku padanya.

"iya aku ingat, kita dulu selalu bercanda ria tertawa dan menyanyi bersama dengan melodi itu" jawabnya.

Hujan mulai reda, aku dan Rima bersiap untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

"sudah Bu, berapa semuanya" tanyaku pada ibu pemilik warung.

"semuanya jadi 20 ribu mas" jawab ibu oemilik warung.

Aku pun menyalakan mesin montor siap bergegas pulang, dan aku menawarkan boncengan pada Rima.

"ayo Rim, kamu kan jalan kaki, srkalian bonceng aku saja, kita kan satu arah" ajakku.

"terimakasih banyak atas kebaikanmu, iz, tapi maaf aku harus pulang" jawabnya.

"iya, aku juga ini mau pulang, makanya kita bareng saja, lagian jalanan becek abis hujan, kasian sendal kamu nanti basah, hehe" candaku padanya.

"ih kamu itu bisa aja ya iz, aku bakalan kangen ama kamu yang suka bercanda kayak gini deh, nanti setibanya aku di Jakarta, kita whatsappan ya iz, biar aku nggak kesepian" katanya kepadaku.

"ke Jakarta? maksutmu kamu mau pulang ke Jakarta hari ini Rim, bukannya tadi kata kamu minggu depan?" tanyaku.

"aku baru saja di kabari sama ibukku, katanya kami harus berangkat ke Jakarta sore ini, ayahku sudah pesan tiket kereta api untuk aku, ibu, ayah, dan kedua adikku, iz, sebentar lagi aku mau dijemput, kami mau diantar sama pamanku naik mobil ke Stasiun Kereta Api" jawabnya.

"oh iya iz, aku juga mau pamitan sama kamu, sekali lagi terimakasih banyak ya iz, semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi, gantian dong kamu yang ke Jakarta, iz, nanti aku kirimin alamat aku deh" sambungnya.

Padahal aku berniat untuk mengajaknya berkeliling Kota hari esok, tapi apa dayaku, dia memang harus pulang ke Jakarta bersama keluarganya.

"iya Rim, sampai jumpa lagi ya, aku pulangnya nunggu kamu dijemput aja, sekalian aku mau mengucapkan hati-hati di jalan sama ayah dan ibu kamu" ungkapku padanya.

"oke, baiklah iz, sebentar lagi sepertinya datang" katanya.

"oh, itu mobilnya udah datang, ayo iz, katanya kamu mau ketemu sama ayah dan ibu aku" sahut dia padaku.

"om, tante, semuanya, hati-hati di perjalanan ya, semoga selamat sampai tujuan, Aamiin" kataku.

"Aamiin, terimakasih ya nak iz, yaudah kami pamit dulu ya mau ke Stasiun soalnya, ngejar Kereta, semoga kamu sama Rima bisa berjumpa lagi lain waktu, salam juga untuk kedua orangtua kamu ya" kata ibunya Rima.

"oh iya tante, nanti saya sampaikan salam ke ayah dan ibu saya dirumah, sekali lagi, hati-hati ya semuanya" kataku.

Ternyata, sore itu mungkin perjumpaanku dengan Rima yang terakhir kalinya, karena 3 bulan kemudian, Rima menikah dengan seorang pria asli Jakarta, dan dia memang sempat memberiku undangan pernikahan, namun saya tidak dapat datang karena tuntutan pekerjaan, hanya kado yang aku kirim lewat paketan dan ucapan do'a yang dapat aku berikan.

- tulisan mas iz -



Sahabat Kecil - tulisan mas iz -

Sebagian masa kecil saya dihabiskan di Kota Metropolitan, ya Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Saya di sana tinggal bersama ibu dan bapak saya...