Ini kisah tentangku dan kedua teman perempuanku, mereka bernama Ani dan Ama, sebenarnya kami bertiga pernah satu sekolah ketika jenjang SMA, Ani dan Ama anak IPA, dan aku anak IPS.
Namun kala satu sekolah, kami bertiga bukanlah tiga sahabat, pun tidak saling akrab, sempat ketemu namun sekedar menyapa saja, itupun tak sering, entahlah antara Ani dan Ama, aku tak tau mereka berdua bersahabat atau sekedar teman biasa.
Ani seorang gadis yang ceria, ramah, dan murah senyum, dia cukup aktif di sekolah dalam bergaul dengan teman-temannya.
Sedangkan Ama, dia perempuan yang anggun, lemah lembut, dan sopan santun, dia lumayan pintar di sekolah kami.
Meskipun keduanya berbeda kepribadian, tapi mereka adalah teman-teman baikku, aku tak membeda-bedakannya, keduanya sama bagiku.
Hingga tiba waktu perpisahan sekolah tiba, aku sempatkan untuk menyapa Ani, diapun menyapa balik, sampai terjadilah percakapan, dia bertanya tentang rencanaku, akupun menjawab dengan sigap bahwa aku akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta.
Begitupun dengan Ani, dia juga akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang berstatus Negeri di luar kota. Aku turut mendoakannya agar kelak dia menjadi orang yang sukses.
Aku juga sempat bertemu dengan Ama, namun saat kutanya perihal rencana setelah lulus sekolah, dia hanya senyum saja seraya tak ingin menjawab, sepertinya aku membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu, langsung kuganti topik pembicaraan, aku spontan berkata bahwa pakaian yang dikenakannya sangat bagus dipakai olehnya. Saat perpisahan, beragam memang pakaiannya masing-masing kelas.
Waktu semakin berjalan, kami bertiga menjalani hidup masing-masing setelah kelulusan sekolah.
Ani berkuliah di luar kota dengan status anak kost, Ama ternyata tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, dia membantu ibunya berjualan di rumahnya, dia memang sangat berbakti pada orangtuanya. Dan aku berkuliah di kampus swasta yang masih satu daerah dengan sekolah jenjang SMA kami.
Namun walaupun tidak lagi saling bertatap muka, tetapi kami terkadang sering berkomunikasi secara maya, kami sempat bertukar nomor handphone saat sekolah dulu.
Aku menyempatkan menghubungi Ama, bertanya kabar, diapun balik menanyakan kabarku, sejak itu aku dan Ama sering berkomunikasi melalui chat.
Hingga suatu saat aku tak sengaja bertemu dengannya di depan rumahnya, aku tak tau jika itu rumahnya Ama, saat itu aku hendak mengurus keperluan perpanjangan STNK ke Kantor Samsat Kabupaten, aku hendak membeli bensin untuk kendaraanku, karena masih jauh dari SPBU, aku berhenti di depan agen yang berjualan bensin eceran, saat aku turun dari kendaraan, ternyata Ama yang berjualan.
Belum sempat aku berkata dia langsung menyapaku, akupun sontak kaget, kukira siapa karena aku masih pangling sudah hampir 1 tahun lebih tidak bertemu, dan ternyata Ama, diapun menawariku untuk beristirahat dulu mampir ke rumahnya, namun waktunya tidak pas, sebenarnya aku ingin ke rumahnya, bukan apa-apa, cukup bersilaturahim dan bertemu dengan orangtuanya, tidak enak juga kan sudah ditawari tapi kesannya menolak. Tetapi kala itu memang aku harus segera bergegas ke kantor Samsat untuk mengurus keperluan.
Di lain waktu, aku juga sempat menerima pesan online dari Ani, dia mengabariku jika dia sudah berhasil masuk di perguruan tinggi negeri yang ia cita-citakan. Akupun turut senang mendengatnya, sejak itu pula kami jadi sering berkomunikasi, hingga sampai suatu saat kami ditakdirkan bertemu kembali.
Kala itu acara pernikahan teman sekolah kami, aku datang dengan temanku berdua, dan Ani datang bersama teman-teman sekumpulannya waktu sekolah dulu. Aku sempat disapa olehnya dan akupun menyapa balik. Tak banyak perbincangan dari kami, hanya saling bertanya kabar saja.
(bersambung ke bagian 2, ditunggu ya teman-teman)
- tulisan mas iz -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar