Aku hanya senyum kepadanya, aku benar-benar tidak mengingatnya, aku hanya mengira kalau dia teman sekolahku waktu SD atau SMP.
Dia menuju ke arahku, lalu meminta izin untuk duduk disebelahku, akupun mengiyakannya kala ia bertanya "apakah aku boleh duduk disebelahmu, iz?"
Aku begitu canggung, gugup, dan malu. Aku tak tau dia ini siapa, dia tau namaku tetapi dia bahkan tidak memperkenalkan diri kepadaku, "apa yang harus kulakukan" batinku.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada dirinya, "hei, senang berjumpa denganmu, tapi maaf, siapa nama kamu?" ucap diriku padanya.
"Kamu lupa namaku ya?" Katanya kepadaku, "iya, aku benar-benar tidak ingat, maaf" ucapku.
Lalu dia menunjukkan sebuah foto dari dompetnya, sepertinya foto itu sudah cukup lama, karena gambarnya sudah tidak terihat jelas, tetapi masih samar-samar aku melihat ada fotoku dan dia disitu.
Entah apa maksudnya dia menunjukkan foto itu padaku, tapi aku yakin maksudnya adalah untuk meyakinkanku jika dia adalah temanku waktu masa sekolah dulu, tetapi di foto itu semua memakai pakaian bebas, berlatar belakang pemandangan ladang persawahan yang indah, ada 5 anak di foto itu, termasuk aku dan dia, serta 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.
Aku masih mencoba mengingatnya, tetapi entah mengapa semakin aku mengingatnya justru aku semakin kesulitan untuk fokus, malah pikiranku jadi buyar.
Langsung saja tanpa pikir panjang aku bertanya padanya, "ini foto kapan ya, kok ada aku sama kamu disini?" ucap diriku.
"ih masak kamu lupa, iz, inikan foto kita berlima waktu main-main di belakang rumahku" katanya kepadaku, "waktu itu kan kita kerja kelompok di rumahku, setelah selesai kita langsung main" sambungnya.
"Rima kan namamu?" Kuberanikan diri untuk bertanya padanya, "iya iz, akhirnya kamu ingat juga namaku" ucapnya.
Ternyata dia adalah Rima, ya, Rima Sahira, teman semeja waktu kami kelas 6 SD.
Tapi kok dia masih hafal denganku, dan kenapa dia ada disini, seingatku dia pindah ke Kota Jakarta bersama keluarganya, setelah kami lulus SD.
Kutanya lagi kepadanya, "Rima, bukannya kamu dulu pindah ke Jakarta ya sama keluarga kamu?" Ucapku padanya.
"iya benar iz, aku melanjutkan SMP di Kota Jakarta, dan kemarin kami pulang kesini, ya itung-itung liburan dong, kan udah penerimaan raport, hehe" ujarnya dengan tawa.
"Hah, penerimaan raport, emang kamu masih sekolah ya, kelas 7A apa 7B, hehe" candaku kepadanya.
"ih kamu itu iz, dari dulu masih ngeselin aja" gumam dirinya sambil menggerutu.
"eh iya iya maaf rim, hanya bercanda kok, maksudku kamu sekarang dah kerja dimana, kok pulang kesini lagi, saya kira sudah betah dan menetap di Jakarta" kataku padanya.
"aku sekarang bekerja sebagai Guru IPA di salah satu SMP Negeri di Jakarta, iz, kalau kamu kerja dimana iz?" Ucapnya padaku, dan diapun menanyaiku.
"aku juga bekerja di bidang Pendidikan, sama seperti dirimu, rim, tetapi aku bekerja sebagai Tenaga Kependidikan menangani administrasi, dan di Madrasah swasta" jawabku padanya.
"oh.... nggak apa-apa iz, kan sama aja kita kerja halal, yang penting kita harus ikhlas dan berdedikasi tinggi dalam bekerja, jangan setengah-tengah, dan kita harus mencintai pekerjaan kita, iz, karena nggak semua orang seberuntung kita yang udah punya pekerjaan, kita harus bersyukur" katanya menasehatiku.
"iya kamu benar rim, nggak semua orang bisa memiliki pekerjaan, aku merasa beruntung mendapatkan pekerjaan ini" ucap diriku.
Akupun masih belum tau alasan sebenarnya dia ada disini, iya, dia mengatakan kalau dirinya pulang untuk liburan, tetapi kenapa dia bisa menemuiku di lapangan sepakbola ini, aku disini kan karena habis main sepakbola tadi bersama teman-temanku, sedangkan dia perempuan, tidak mungkin kan dia main sepakbola juga, apalagi dia memakai rok.
Aku tanya saja padanya "kok kamu ke lapangan sepakbola ini rim, kamu kan cewek?" Tanyaku padanya.
"ih kamu itu iz, ya iyalah aku ini cewek, emang kenapa sih kalau aku ke lapangan ini, nggak boleh ya, iz? yaudah aku pulang aja deh" ungkapnya sambil menggerutu.
"hei hei hei rim, nggak gitu maksud aku, masak gitu aja ngambek sih, ku beliin balon ama maenan ya, hehe" candaku padanya.
"ih kamu itu iz, masih ngeselin aja" katanya, "aku ke lapangan ini itu karena aku kangen dengan tempat ini, beserta kenangan-kenangannya juga, eh nggak sengaja ngelihat kamu disini, yaudah aku samperin" jawabnya.
Hari semakin sore, dan tak disangka kala itu hujan begitu saja dan lumayan deras, aku mengajak Rima untuk berteduh ke sebuah warung makan sederhana yang tak jauh dari lapangan sepakbola itu.
"Rima, ayo ikut aku, kita bisa kehujanan dan basah kuyup jika disini terus" ungkapku padanya.
Di warung itu, aku pesankan minuman dan cemilan untuk Rima dan diriku, sambil menunggu hujan reda, kami mengobrol apa saja yang dapat kami obrolkan, dari masa sekolah dulu, hingga rencana dia untuk balik ke Jakarta minggu depan nanti.
Terdengar ada suara alat musik, sepertinya ada yang sedang bermain gitar kala itu, aku menghampiri orang yang sedang bermain gitar, dan akupun meminjamnya.
"mas, aku boleh pinjam gitarnya nggak mas" tanyaku padanya,
"oh boleh mas, ini silahkan" dia memperbehkan.
Aku membawa gitar itu mendekat ke Rima, dan aku mainkan sebuah melodi yang dulu sempat kami mainkan saat di kelas bermain gitar bersama teman-teman kami.
"ih, kamu masih ingat melodi itu iz?" tanya Rima kepadaku.
"masih dong, melodi ini akan selalu aku ingat, karena melodi ini yang membuat aku semangat, menjadikanku mengingat masa-masa sekolah dulu ketika kita bersama teman-teman yang lain, Rim, kamu juga ingat kan?" Tanyaku padanya.
"iya aku ingat, kita dulu selalu bercanda ria tertawa dan menyanyi bersama dengan melodi itu" jawabnya.
Hujan mulai reda, aku dan Rima bersiap untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
"sudah Bu, berapa semuanya" tanyaku pada ibu pemilik warung.
"semuanya jadi 20 ribu mas" jawab ibu oemilik warung.
Aku pun menyalakan mesin montor siap bergegas pulang, dan aku menawarkan boncengan pada Rima.
"ayo Rim, kamu kan jalan kaki, srkalian bonceng aku saja, kita kan satu arah" ajakku.
"terimakasih banyak atas kebaikanmu, iz, tapi maaf aku harus pulang" jawabnya.
"iya, aku juga ini mau pulang, makanya kita bareng saja, lagian jalanan becek abis hujan, kasian sendal kamu nanti basah, hehe" candaku padanya.
"ih kamu itu bisa aja ya iz, aku bakalan kangen ama kamu yang suka bercanda kayak gini deh, nanti setibanya aku di Jakarta, kita whatsappan ya iz, biar aku nggak kesepian" katanya kepadaku.
"ke Jakarta? maksutmu kamu mau pulang ke Jakarta hari ini Rim, bukannya tadi kata kamu minggu depan?" tanyaku.
"aku baru saja di kabari sama ibukku, katanya kami harus berangkat ke Jakarta sore ini, ayahku sudah pesan tiket kereta api untuk aku, ibu, ayah, dan kedua adikku, iz, sebentar lagi aku mau dijemput, kami mau diantar sama pamanku naik mobil ke Stasiun Kereta Api" jawabnya.
"oh iya iz, aku juga mau pamitan sama kamu, sekali lagi terimakasih banyak ya iz, semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi, gantian dong kamu yang ke Jakarta, iz, nanti aku kirimin alamat aku deh" sambungnya.
Padahal aku berniat untuk mengajaknya berkeliling Kota hari esok, tapi apa dayaku, dia memang harus pulang ke Jakarta bersama keluarganya.
"iya Rim, sampai jumpa lagi ya, aku pulangnya nunggu kamu dijemput aja, sekalian aku mau mengucapkan hati-hati di jalan sama ayah dan ibu kamu" ungkapku padanya.
"oke, baiklah iz, sebentar lagi sepertinya datang" katanya.
"oh, itu mobilnya udah datang, ayo iz, katanya kamu mau ketemu sama ayah dan ibu aku" sahut dia padaku.
"om, tante, semuanya, hati-hati di perjalanan ya, semoga selamat sampai tujuan, Aamiin" kataku.
"Aamiin, terimakasih ya nak iz, yaudah kami pamit dulu ya mau ke Stasiun soalnya, ngejar Kereta, semoga kamu sama Rima bisa berjumpa lagi lain waktu, salam juga untuk kedua orangtua kamu ya" kata ibunya Rima.
"oh iya tante, nanti saya sampaikan salam ke ayah dan ibu saya dirumah, sekali lagi, hati-hati ya semuanya" kataku.
Ternyata, sore itu mungkin perjumpaanku dengan Rima yang terakhir kalinya, karena 3 bulan kemudian, Rima menikah dengan seorang pria asli Jakarta, dan dia memang sempat memberiku undangan pernikahan, namun saya tidak dapat datang karena tuntutan pekerjaan, hanya kado yang aku kirim lewat paketan dan ucapan do'a yang dapat aku berikan.
- tulisan mas iz -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar